Ramadan memasuki hari ke 5 di kantor sungguh meriah dengan diadakannya peng-kajian topik2 Islam. Acara diadakan seputar jam makan siang (sebelum/sesudah dhuhur) disertai dengan sholat berjamaah in-between. Berikut summary dari kajian 17 Sept 2007, mudah2an membawa hikmah bagi kita sekalian. Amin..
Berguru Pada Ilahi di Bulan Suci
Oleh Ustadz Rusli Malik.
Berbicara mengenai berguru dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari nilai. Makanya posisi epistimologi dalam Islam sangat ditentukan oleh untuk apa pengetahuan yang diperoleh didayagunakan. Apakah untuk kepentingan di jalan Allah ataukan hanya untuk memenuhi kepetingan duniawi semata, kepentingan pribadi atau pun kelompok.
Manusia dilihat dari struktur tubuhnya terdiri dari tiga bagian, bagian atas disebut kepala yang berfungsi memikirkan ayat-ayat atau tanda-tanda Allah di muka bumi, di tengah ada dada yang merupakan simbol kedirian manusia, dan di bawah ada perut dan sekitar perut yang merupakan simbol makan, minum dan seks.
Manusia diciptakan dari sari pati tanah, kemudian Allah menjadikan air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara yaitu di rahim. Kemudian Allah menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Allah jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging dijadikan oleh Allah menjadi tulang-tulang. Maka kemudian Allah liputi tulang-tulang tersebut dengan daging, dan lalu Allah tiupkan ruh-Nya ke dalam janin tersebut sehingga menjadi ciptaan yang baru (khalqan akhar, Al-Mukminun 23 : 12-14). Ini menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk jasmani sekaligus makhluk ruhani.
Maka dada atau kedirian seseorang akan sangat ditentukan oleh siapa yang mempengaruhinya. Atau dengan kata lain kediriaan seseorang mulia atau tidak ditentukan apakah ia dipengaruhi dan berorientasi oleh dan kepada kepala ataukah ia dipengaruhi dan berorientasi oleh dan kepada perut. Kalau dipengaruhi dan berorientasi perut maka ia akan berpikir hanya untuk makan, minum dan seks. Dan ia pasti akan mementingkan diri sendiri, berbuat dzalim, bahkan kalau perlu membunuh untuk memenuhi kebutuhan perut dan sekitar perut. Sebaliknya orang yang berorientasi kepala ia makan hanya untuk agar bisa memikirkan akan ciptaan dan tanda-tanda Allah di muka bumi yang tujuannya mengantarkan mereka kepada penciptanya yaitu Allah SWT.
Maka puasa adalah kesempatan kita untuk bisa berguru pada Allah dengan menahan (imsak) untuk mendayagunakan semua potensi yang diberikan oleh Allah hanya untuk kepentingan kepala. Itulah hasil yang diharapkan dari puasa yaitu agar bertaqwa. Taqwa hakikatnya adalah transformasi ideologi dan orientasi dari perut ke kepala.
Kalau manusia sudah bertaqwa maka proses berguru akan menjadi maksimal. Karena Allah sendiri yang akan mengajar kepada manusia (Al-Baqarah 2 : 282). Sebab di dalam Islam pengetahuan itu ada dua, pengetahuan yang didapatkan lewat perantara atau manusia yang aktif mencari dan mendapatkannya, yang disebut ilmu hushuli dan kedua adalah pengetahuan yang didapat tanpa perantara atau manusia pasif dan yang aktif Allah (Allah yang mengajar), yang disebut ilmu khudhuri atau kadang lebih dikenal dengan ilmu ladunni. Inilah pesan pertama yang terdapat pada wahyu pertama (Al-`Alaq 96 : 1-5) yang diturunkan kepada Muhammad Saw., yaitu pesan iqra` (membaca), sebuah perintah untuk belajar dan berguru. Syaratnya adalah belajar dengan izin Allah dan untuk mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya, baik lewat perantaraan (bil qalam) atau pun tanpa perantaraan ( maa lam ya`lam).
Dengan berguru manusia akan mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia berbeda dengan binatang (manusia yang hanya berorientasi perut dan sekitar perut lenbih sesat dari binatang ternak, Al-A`raf 7 :179; Al-Furqan 25 : 43-44). Dan orang yang berpengetahuan dan pengetahuannya ia orientasikan untuk memahami ayat-ayat Allah atau untuk orientasi “taqwa” maka ia adalah makhluk paling mulia di mata Allah (Al-Hujurat 49 :11).
Maka marilah kita manfaatkan bulan suci dan penuh rakhmat Allah ini dengan berguru kepada Ilahi dengan cara mengubah orientasi kita dari perut dan sekitar perut menuju ke kepala. Dan itu bisa kita mulai dengan amalan-amalan sebagai berikut : Puasa dengan tidak hanya hanya sekedar menahan makan, minum dan seks, tetapi dengan memulai puasa panca indera, banyak membaca Al-Qur`an, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak sedekah dan infak, memperbanyak amal saleh, memperbanyak doa dan dzikir, dan amalan-amalan saleh lainnya. Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan ilmunya langsung kepada kita (ilmu khudhuri atau ladunni).
Amin, wallahu a`lam bish shawab